Rabu, 05 Oktober 2011

HELPING TEACHER TO DEVELOP MODEL FOR SECONDARY MATHEMATICS TEACHING: Action Research of Indonesian Secondary Mathematics Teaching


Marsigit * , Y.Sato _ , Sugeng Mardiyono *
Eko Sulistyowati_, Bardi _
Reviewed by: yunia indri hapsari (09301241034), http://yunia-indri.blogspot.com

Peningkatan kualitas guru, menjadi salah satu persoalan mendasar dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Kualitas  proses belajar mengajar terkait erat dengan bagaimana cara mengajar guru di kelas. Dalam hal perilaku guru dan kompetensi peningkatan kualitas secara langsung terkait dengan kemampuan guru untuk merencanakan dan mengelola waktu, untuk mengenali dan memahami tujuan, untuk mengatur dan mengelola pengajaran dan pembelajaran melalui kombinasi kegiatan kelas, untuk menggunakan lingkungan dan sumber daya, untuk menggunakan berbagai jenis metode pengajaran atau pendekatan, untuk memberikan dan menggunakan umpan balik belajar-mengajar dan untuk lebih menilai proses serta hasilnya.
Gambaran umum mengajar matematika sebelum penelitian, tercermin oleh guru, adalah bahwa guru menerapkan metode pengajaran klasik terutama dengan metode eksposisi dalam kegiatan  menjelaskan, mempertanyakan, dan memberikan tugas pada siswa.

Dari penelitian ini kita dapat belajar bahwa guru memiliki kesulitan dalam: fungsi pengembangan lembar kerja, mengembangkan skema untuk pengkomunikasian antara kelompok, dan mengembangkan alat bantu dan bahan pengajaran. Guru juga memiliki kesulitan bagaimana untuk membentuk kelompok dan bagaimana mengelolanya.

Pengamatan
juga  menunjukkan bahwa setiap kali siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan mereka, mereka kemudian cenderung melakukan kegiatan lain  atau untuk menyampaikan pertanyaannya untuk  teman-teman sekelasnya.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini, dipenelitian ini, adalah memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan lembar kerja. Mengembangkan lembar kerja  oleh guru mendorong siswa untuk aktif belajar matematika melalui pemecahan masalah. Setiap kali guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, para siswa memiliki kesempatan untuk berkomunikasi satu sama lain. Para siswa mulai berdiskusi jika mereka menemukan masalah yang cukup  sulit untuk dipecahkan sendiri. Faktor  yang
menyulitkan guru  dalam mengembangkan skema untuk mendorong kegiatan diskusi adalah kurangnya pemahaman guru tentang makna dari apa yang disebut 'diskusi' dan bagaimana implementasinya di proses belajar mengajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar