Selasa, 01 Januari 2013

PENDEKATAN GUNUNG ES (ICEBERG) PADA PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA


Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) adalah salah satu pembelajaran matematika yang saat ini sedang dicoba untuk dikembangkan dalam pembelajaran matematika di Indonesia. Pendekatan ini diadopsi dari Realistic Mathematics Education yang dikembangkan di Belanda.  
Frans Moerland (2003) memvisualisasikan proses matematisasi dalam pembelajaran matematika realistik sebagai proses pembentukan gunung es (iceberg). Visualisasi dari proses matematisasi ini digambarkan sebagai berikut.
Menurut Prof. Dr Marsigit, maka skema pembelajaran matematika yang digambarkan sebagai gunung es ini, pada lapisan dasar adalah konkrit, kemudian di atasnya ada model konkrit , di atasnya lagi ada model formal dan paling atas adalah matematika formal.
Seperti yang kita tahu, gunung es terbentuk mula-mula dari dasar laut, kemudian semakin ke atas, ke atas dan sampailah pada pembentukan puncaknya yang terlihat di atas permukaan laut . Seperti Gunung-gunung pada umumnya, bagian dasar gunung es, yang paling dasar tentunya memiliki daerah atau wilayah yang lebih luas dibandingkan dengan bagian atasnya. Sedangkan matematika yang diajarkan pada kebanyakan sekolah sekarang hanyalah matematika yang tampak di atas permukaan air laut saja dalam gunung es tersebut, yaitu hanya matematika formal saja. padahal, Masih banyak tahap yang ada di bawahnya yang sangat mempengaruhi kekokohan pengetahuan yang dibangun. Seperti halnya sebuah rumah, pondasi rumah adalah yang paling dasar, tak bisa kita langsung membangun atapnya tanpa ada pondasi dan dinding. Begitu pula dengan matematika, Untuk membangun pengetahuan matematika siswa maka pertama yang harus dibangun adalah dengan hal-hal yang konkret, yang ada di dalam kehidupan siswa sehari-hari. Harus dipastikan bahwa tahap ini terbangun dengan kokoh, dan dilanjutkan dengan tahap selanjutnya.
Hal ini diadopsi pula untuk pendekatan  Pendidikan Matematika Realistic Indonesia . Pengetahuan matematika dibangun dari hal-hal yang konkrit, kemudian baru ke skema, kemudian model, baru terakhir ke matematika formal. Porsi pembelajaran matematika dengan hal-hal konkrit adalah yang paling besar dibanding dengan yang lain. Bila diuraikan, maka tahapan pengkostruksian pengetahuan dalam pembelajaran matematika adalah sebagai berikut:
1. Tahap Konkrit
Pada tahap ini, siswa dihadapkan dengan matematika konkrit. Apakah matematika konkrit itu? Ternyata semua yang kita lihat, yang ada dalam kehidupan sehari-hari siswa, itulah yang disebut matematika konkrit. Misalnya, pohon, karet, kursi dll, dapat kita bawa ke matematika konkrit. Dalam tahapan ini, guru harus memastikan bahwa pengetahuan yang dibangun siswa dalam tahap ini kokoh, baru melanjutkan ke tahapan selanjutnya.
2. Tahap Model Konkrit
Contoh-contoh konkrit ketika sudah dituangkan dalam gambar, atau guru menempelkan foto benda konkrit, maka itu sudah menjadi model konkrit. Mengapa disebut model konrit? karena telah terkena manipulasi/ campur tangan guru, bukan lagi benda yang konkrit, namun model konkrit.
3. Tahap Model formal
Dari model konkrit, siswa dibawa ke tahap model formal. Misalkan saja dalam pecahan, dengan gambar (model tertentu) siswa   membangun   pengetahuan bahwa
½ + ½ = 1. Namun pada tahap ini, siswa masih menggunakan model, sehingga disebut model formal. 
4. Tahap Matematika formal
Dalam tahap ini, siswa sudah dihadapkan dengan matematika formal, dalam bentuk simbol-simbol seperti matematika yang umumnya diberikan di sekolah-sekolah. Karena siswa membangun pengetahuan matematika mereka dari matematika konkrit, model konkrit dan model formal, maka siswa akan lebih mudah membangun pengetahuan matematika formal mereka karena telah memiliki dasar yang kuat.



           
     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar