Senin, 15 Oktober 2012

FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA Pertemuan ke-1



            Sebelum kita belajar tentang Filsafat Pendidikan Matematika, terlebih dahulu kita harus mengerti apa itu filsafat.  Mengapa harus filsafat dulu yang dipelajari? Kita dapat meniru terminology “dunia”. “Dunia” bisa diletakkan di depan apapun. Misal Dunia wanita, dunia pendidikan, dunia hewan, dunia siang, dunia malam dan sebagainya. Begitupula dengan filsafat, dapat diletakkan di depan apapun. Misal, filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat Tuhan dan sebagainya.
            Filsafat adalah olah pikir yang refleksif. Refleksif sendiri berarti mengungkapkan kembali apa yang telah diterima, dipelajari. Karena filsafat merupakan olah pikir, maka kita bisa memikirkan apapun meskipun terbatas. Bahkan kita dapat memikirkan Tuhan, meskipun ada batasannya. Berfilsafat tidak boleh secara sembarangan. Kita harus berhati-hati dan mematuhi tata karma atau adab berfilsafat. Adapun adab berfilsafat adalah:
1.      Filsafat itu letaknya tinggi, namun setinggi-tinggi filsafat tidak boleh melebihi spiritual.
Setinggi-tinggi olah pikir manusia, tetap tidak boleh melebihi keyakinan. Bisa kita ibaratkan untuk satu langkah berfilsafat, maka dibutuhkan 10 langkah untuk berdoa. Untuk dua langkah berfilsafat maka butuh 20 langkah untuk berdoa. Ketika kita merasa berat dalam berolah pikir atau berdoa, maka hendaknya kita berhenti dan mohon ampun kepada Tuhan.
Pernah suatu ketika seorang Profesor dari suatu Universitas ternama di luar negeri berkunjung ke Universitas Negeri Yogyakarta dan beberapa kali sempat mengikuti kelas Dr. Marsigit (dosen filsafat pendidikan matematika). Kemudian beliau bertanya kepada Pak Marsigit, “Apa hubungannya berdoa dengan matematika? Kenapa engkau selalu memulai dan mengakhiri perkuliahan dengan berdoa ?”. Setelah perbincangan yang cukup antar sang Profesor dan Pak Marsigit, diketahui bahwa ternyata sang profesor tidak percaya dengan Tuhan karena beliau tidak tahu.
Berfilsafat tanpa dilandasi dengan do’a sangat berbahaya. Untuk menemukan Tuhan, tidak cukup jika hanya dengan olah pikir , harus melalui hati dan keyakinan. Jika hanya dengan olah pikir, kita tidak akan mengerti seluk beluk hati, termasuk cinta dan kasih saying.
2.      Filsafat itu hidup.
Contoh yang dapat menjelaskan adab ini yaitu : Seorang suami belum selesai menjelaskan cintanya kepada sang istri, karena mereka belum bercinta dalam 10 tahun atau bertahun-tahun yang akan datang. Dan hal itu tidak akan selesai sebelum kematian. Begitupula dengan filsafat, filsafat itu hidup.
Karena filsafat itu hidup, maka metode yang digunakan untuk mempelajarinya adalah metode hidup. Tengoklah keluar, pelajari ciptaan Tuhan, catat, pikirkan bagaimana Tuhan menghidupkan tumbuh-tumbuhan, manusia bahkan alam semesta. Perhatikan mulai kita lahir sampai mati.
Hidup itu ada yang sehat dan tak sehat atau sakit, ada pula hidup bahagia dan tak bahagia atau susah. Begitupula dengan filsafat, ada yang sehat dan tak sehat. Berfilsafat secara sehat yaitu beradab atau harus mengerti, memahami dan melaksanakan tata karma berfilsafat. Sebaliknya, filsafat yang tak sehat adalah berfilsafat tanpa memperhatikan adabnya.
Bahasa filsafat adalah bahasa analog. Bahasa analog lebih tinggi daripada bahasa kiasan. Misal dalam filsafat disebut dengan kata “hati”, ini bisa berarti keyakinan, agama keTuhanan. Kata “pikiran”, bisa bermaksud urusan manusia, urusan dunia dan lain sebagainya.
Sedangkan objek dari filsafat adalah hal yang ada dan yang mungkin ada. Hal yang ada yaitu hal yang bisa dilihat, disentuh, dipikirkan, yang sudah diketahui. Sedangkan hal yang mungkin ada yaitu hal yang belum diketahui.
Metode berfilsafat adalah metode hidup yaitu metode menerjemahkan dan diterjemahkan (hermenitika). Berfilsafat yaitu berinteraksi namun yang refleksif. Setiap hal di dunia ini semua berinteraksi dengan lingkungannya tanpa terkecuali. Hewan seperti kucing dan anjing juga berinteraksi dengan lingkungan. Mereka tidak takut dengan mobil-mobil yang besar karena mereka berinteraksi, menerjemahkan dan diterjemahkan. Bahkan material seperti batu juga berinteraksi dengan lingkungan. Batu berinteraksi dengan udara, panas, air sehingga berubah, apalagi manusia.
3.      Sebelum berfilsafat harus membersihkan diri
Sebagaimana seperti ketika kita akan melaksanakan ibadah sholat, kita harus mensucikan diri terlebih dahulu. Begitupula ketika kita akan berfilsafat, maka kita harus membersihkan diri dari pikiran-pikiran yang mengganggu. Karena tanpa pikiran yang jernih, kita tidak akan mungkin berolah pikir refleksif.
Agar berpikiran jernih, badan juga harus bersih. Tidak mungkin kita akan berpikiran jernih jika badan dalam kondisi kantuk, kotor sakit dan lain sebagainya. Kejernihan yang dibutuhkan dalam berfilsafat adalah kejernihan memandang suatu hal sehingga kita dapat merefleksi diri.

            Selanjutnya, kita bicarakan tentang adab hidup yang sehat. Hidup yang sehat secara filsafat adalah hidup yang harmonis, hidup yang seimbang anatara unsure-unsurnya. Agar mencapai hidup yang harmonis, maka kita tidak boleh diam saja. Karena sumbu dari keharmonisan adalah ikhtiar atau usaha dan sumbu keikhlasan. Keikhlasan di sini adalah keikhlasan dalam menerima hasil usaha kita. Kehidupan juga harus seimbang antara urusan dunia dan akhirat.
            Jangan pernah berpikiran bahwa kita belajar filsafat di kelas yaitu kita siap menerima filsafat dari dosen. namun, kita sendiri yang harus menghidup-hidupkan filsafat, dengan berikhtiar, berinteraksi dan lain sebagainya.

Pertanyaan : Bagaimana dengan seorang yang terkena gangguan mental? Apakah mereka juga mungkin berfilsafat, sedangkan olah pikir mereka mungkin tidak seperti orang normal pada umumnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar